Minggu, 21 Juli 2013

Ku Temukan Tuhan di Puncak Sinai

Puncak Gunung Musa terlihat kuning keemasan saat terkena matahari pagi
Jreeng.. Jreeng..! Suara ringtone alunan gitar berpadu bass keras memecah keheningan malam, “Ah.. Brisik sekali, Suara HP siapa itu tengah malam begini?” pikirku mengeluh. Ternyata ringtone alarm dari Nokia Ashaku sendiri yang sejak tadi berdering, kulihat jam di layar ponsel menunjukan pukul 04.00 pagi. “Astaghfirullah kesiangan..!” gumamku, segera kuberanjak dan membangunkan teman-teman sekamar.

Melihat sekeliling kamar, rasanya tak tampak sebuah kamar mahasiswa, tapi lebih mirip sebuah gudang, banyak tumpukan Styrofoam, botol air mineral, sekarung beras, bumbu dapur, banner, tripod, kardus dan banyak lagi perkakas masak berserakan dimana-mana. Ya, karena semalam panitia Summer Holiday baru saja mempersiapkan bekal untuk liburan musim panas di Sinai selama 3 hari. Rencananya kami mengunjungi Uyun Musa, Pantai Taba, Puncak Sinai, tempat Nabi Musa dan beberapa destinasi lainnya.

Membasuh muka ketika berwudlu rasanya begitu menyegarkan, sambil berharap dosa yang diperbuat mata ini mendapat ampunan. Kugelar sajadah menghadap Baitullah, berjamaah dengan mantap mengayunkan tangan diiringi takbir, selalu begitu syahdu shalat Subuh bagiku, walau kadang kantuk lihai menggoda.
***
Jam dinding menunjukan pukul 07.30, saatnya membawa semua perbekalan ke bis. Panitia dengan sigap   berkemas dan men-checklist barang bawaan. Tiga puluh menit kemudian rombongan bertolak dari Kairo menuju ke arah timur Mesir , memulai petualangan besar menyusuri Laut Merah dan Sinai. Perjalanan ke tempat Nabi Musa menerima wahyu ini menempuh 10 jam lebih.

Sepanjang perjalanan dari jendela, bus kami disuguhi pemandangan gurun pasir yang menghampar, pasirnya sehalus sutera begitu lembut terbawa angin dan warna cokelat cerahnya menambah anggun, benar-benar kecantikan yang mematikan. Sesekali mata menangkap pemandangan kota Satelit di tengah gurun, kota Satelit merupakan kota-kota baru yang disebar di daerah gurun, pemerintah sengaja menyulap daerah gurun menjadi daerah pemukiman yang modern nan hijau, program ini terus digulirkan dalam rangka mencegah kepadatan penduduk, sehingga penduduk tak hanya terpusat di Kairo saja, melainkan tersebar merata di seluruh wilayah Mesir, seperti kota Tajammu', Nasr City, 6th Oktober, Heliopolis, Oubur City dan masih banyak lagi.

Sebenarnya aku khawatir dengan liburan kali ini, menyusul keributan dan baku tembakdi beberapa kota di Mesir, Presiden mengumumkan kondisi darurat militer di 4 daerah mesir,  Suez salah satu kota yang terkena operasi militer, dan celakanya kita harus melewati distrik tersebut untuk sampai ke Semenanjung Sinai, karena di distrik ini letak Kanal Suez berupa jalan di bawah laut yang memisahkan antara benua Afrika dan Asia. Terdengar kabar, bahwa ada bus pariwisata turis asing yang dibajak oleh orang Badui bersenjata ketika melewati gurun Sinai padahal sudah dikawal oleh tentara, hal ini membuatku bertambah takut.

Uyun Musa, Karunia Allah untuk Bani Israel
Pesisir Kota Nuweiba
Kota Taba yang berbatasan langsung dengan Israel
Puncak Sinai, tempat Nabi Musa menerima Wahyu
Menikmati Sunrise di puncak Sinai

Berpose disela perjalanan turun dari Sinai


Bus rombongan tiba di pos pemeriksaan depan pintu masuk kanal Suez, terlihat banyak tentara lengkap dengan senjata berjaga di luar, tak hanya itu jeep dan beberapa tank perang sudah disiagakan. Pemandangan di luar seketika merubah atmosfir dalam bis mencekam, ditambah 2 tentara naik ke atas bus, ketua rombongan berusaha menenangkan kami, bahwa tentara hanya memeriksa surat jalan dan paspor peserta. Aku langsung merogoh saku tas tempat paspor berada, namun tak ketemu, kucoba rogoh di bagian lain lagi dan lagi hanya alpa yang kudapat, “Ya Allah, celaka ana..! bisa diseret kalau ketahuan tak bawa paspor” kataku resah dalam hati. Kebetulan aku duduk di kursi nomer 4 dari belakang, rombongan sudah siap dengan paspor masing-masing di tangan siap diperiksa, sedangkan aku? Aku mulai gaduh memburu dan mencoba mengingat kembali di mana buku hijau kecil bergambar garuda itu disimpan, “Aduuuh.! Ternyata ketinggalan di laci kamar” sesalku sembari menepuk jidat. Pikiranku mulai kemana-mana tak fokus, apalagi tentara yang memeriksa beberapa kursi lagi sampai di kursiku, Aku sudah pasrah dan bertawakal, namun degup jantung semakin kencang dan berdebar serasa  mau lompat. Dimenit terakhir tentara mendekati kursiku ketika hampir pingsan di tempat, ternyata pertolongan Allah datang, entah mengapa atasan mereka memanggil untuk menyudahi pemeriksaan dan akhirnya aku tak kena periksa, itu artinya selamat. ”Fuihhhh..!” Desahku melepas nafas yang tegang dan mengusap keringat yang mengucur deras. "Alhamdulillah Ya Allah, syukron katsiron atas pertolongannya” Ucap syukur terbebas dari masalah.

Setelah melewati terowongan yang terletak tepat di bawah selat Suez, berarti kami telah berada di benua Asia, karena selat Suez merupakan pembatas antara benua Afrika dan Asia.

Perjalanan berlanjut ke Uyun Musa, mata air yang mengalir lewat tongkat  Nabi Musa untuk Bani Israel. Saat rombongan tiba di Uyun Musa, suasana amat sepi dan cenderung kurang terurus, terlihat dari kondisi belasan lapak suvenir yang terbengkalai, hanya beberapa saja yang masih digunakan.  Setelah mendapatkan pengarahan, kami dipersilahkan untuk menyebar dan mengabadikan momen, pemadangan di sana berupa beberapa sumur yang di sekitarnya ditumbuhi banyak pohon kurma dan membentuk sebuah oase, sisanya hanya berupa gurun pasir. Dari 12 sumur yang ada, saat ini hanya 6 sumur yang masih tersisa. Tempat ini mengingatkan, betapa besarnya karunia yang Allah berikan kepada Bani Israel, saat mereka berhasil lolos dari kejaran Firaun dan tentaranya, lalu tersesat di gurun dan kehausan, Allah menganugerahkan mata air yang jernih dan sejuk, tak hanya satu tapi 12 mata air. Tak cukup di situ, mereka juga diberi Manna dan Salwa ketika lapar. Sebuah nikmat yang tak pernah diberikan kepada kaum sebelumnya, kecuali kepada Bani Israel.  Dengan karunia sebanyak itu, Bani Israel bukannya bersyukur malah mereka kufur. Puas menjelajahi semua sudut, petualangan berlanjut ke Taba, kota pesisir Laut Merah yang sangat Indah.

Selama membelah gurun Sinai, dari jendela hanya terlihat hamparan gurun pasir, sesekali kumpulan belukar dan kaktus kami temui.  Serangan dari Badui yang kami takutkan tak terjadi, perjalanan aman dan menyenangkan.

Sampai di rest area di Nakhel, sebuah pangkalan militer, kami makan siang dan jama’ Dzuhur dan Ashar.  Ketika mendekati Laut Merah, perhatian kami tercuri dengan tebing-tebing sebelah kanan dan kiri, tak hanya takjub dengan ketinggiannya, tapi karena batuan tebing yang berwarna merah, orange, coklat bahkan hitam begitu indah, deretannya terlihat angkuh menemani kami hingga menemui Laut Merah. “Subhanallah” Suara tasbih memenuhi bus kala melihat Red Sea yang terlihat orange kekuningan terkena pantulan matahari sore, artinya kami sudah setengah perjalanan ke Sinai.

 Sepanjang pesisir Laut, rombongan melewati beberapa kota wisata, seperti kota Taba yang memiliki pantai yang sangat jernih airnya serta berbatasan langsung dengan Israel dan Nuweiba kota real estate yang dipenuhi dengan villa dan hotel berbintang.

Bernyanyi bersama di bus mengusir bosan, ternyata cukup menguras tenaga, tak berselang lama kantuk segera menyergap tanpa ampun. Tak sadar, ternyata bus telah sampai di pintu masuk taman Nasional Sinai. Rombongan sampai jam 8 malam dan turun di depan Homestay untuk makan malam dan shalat jama’ Maghrib dan Isya. Untuk mendaki ke puncak gunung wahyu tersebut membutuhkan 3-4 jam tergantung kondisi tubuh pendaki, kami harus menaikinya tengah malam agar ketika sampai di puncak bisa menyaksikan Sunrise, karena momen ini yang paling ditunggu para pendaki.


Jam tangan menunjukkan pukul 12 malam, rombongan sudah berbaris rapi di pintu masuk pendakian, walaupun musim panas udara sekitar terasa dingin. Semua proses registrasi selesai, dengan diawali doa bersama kami mantap melangkahkan kaki menaiki setapak demi setapak jalan yang pernah dilalui Musa. Walau jalan terlihat gelap, selama pendakian mata sesekali menikmati panorama langit yang kala itu sangat indah, bayangkan di hadapan mata bias melihat jutaan bintang yang tersusun anggun membentuk sungai bintang yang membentang dari utara ke selatan, malam yang mengesankan.

Perjalanan kami ternyata tak semudah yang kami bayangkan, baru beberapa pos saja nafas kami sudah tersengal-sengal, apalagi gunung yang kami daki mempunyai ketinggian 2.285 M dpl, benar-benar butuh tenaga dan kewaspadaan ekstra, apalagi jalan setapak yang dilalui tak selalu mulus, melainkan terjal dan curam, kadang kami juga disuguhi jalan sempit yang diiringi jurang dalam menganga di sampingnya.

Sampai di pos terakhir sebelum puncak kami harus melewati ratusan tangga terjal, melewatinya tak bisa bersombong diri dengan menolak beristirahat, kadang sampai merebahkan badan di batu, begitu payah dan lelahnya pendakian. Pukul 03.45 pagi, sebagian rombongan tiba di puncak termasuk aku, di puncak ada sebuah gereja dan mushala, karena Sunrise sebentar lagi aku segera menuju ke mushala untuk menunaikan Subuh, karena tak ada air kami sepakat bertayammum.

Memasuki mushala, ku dapati ada 2 orang Arab, yang satu tidur dan lainnya sedang membaca dengan bantuan cahaya lilin. Kami dipersilahkan untuk shalat, dengan kaki yang masih gemetar karena menaiki tangga yang tak terhitung. Dengan mantap, kugaungkan takbir menutup duniaku khusyu’ untuk mengingat-Nya, selesai shalat tak tahu mengapa rasanya ingin sujud, ketika wajah dan kepala benar-benar setara dengan tanah, hati serasa jatuh mengingat masa lalu, seketika semua masa laluku teringat dengan jelas, tanpa sadar air mata mengalir deras memohon ampun atas semuanya, aku menangis sejadi-jadinya, aku baru merasakan betapa beratnya perjuangan Rasulullah SAW, padahal yang kurasakan hanyalah beratnya mendaki sebuah gunung, itupun untuk berlibur, sedangkan para Nabi-Nya untuk mendapatkan wahyu mereka harus bersusah payah, disiksa, dicemooh, melewati gurun yang panas dan bahkan sampai ancaman pembunuhan. “Ya Allah, Ampunilah hambaMu yang nista ini, kemana lagi hamba meminta ampunan selain kepada-Mu, jika nanti aku tak dapat ampunan, maka berikanlah rahmat dan Ridho-Mu” Pintaku dalam munajat, tak lupa ku doakan kedua orang tua dan nenekku yang sedang tergolek lemas ditemani strok dan diabetes. Inilah pengalaman spiritualku, dimana Allah serasa dekat denganku, seakan aku menemukan "Tuhan", hati begitu lega dan damai.

Selesai berdzikir, aku langsung menuju ke tempat Nabi Musa menerima wahyu untuk Bani Israel, di sana tak lupa bershalawat dan berdoa untuk Nabi Musa. AS. Aku jadi paham, apabila Musa sangat marah dan Allah mengutuk Bani Israel, bagaimana tidak? Ketika Musa baru turun dari puncak Sinai membawa wahyu untuk Bani Israel, ternyata mereka malah menyembah berhala berupa patung anak sapi emas (patung Samiri), sehingga tanah yang dijanjikan (Palestina) berpindah ke tangan orang yang beriman.

Tak kusangka liburan kali ini menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan, serta menjadi batu loncatan untuk hari esok yang lebih baik. Momen yang kami tunggupun tiba, Sunrise muncul membuka keindahan pegunungan Sinai yang sejak tadi dikuasai gelap. Sinai mentari yang kuning keemasan berpadu dengan bebatuan gunung, terlihat sangat mempesona. Subhanallah.




Related Articles

10 komentar:

  1. Nice Story
    Sinai memang kadang memberikan kenangan yg tak terlupakan, terutama pengalaman spiritual ttg sejarah perjuangan nabi Musa dlm menerima wahyu. Berjuang mati2an ke puncak Sinai yg waktu itu masih sangat terjal dan menerima wahyu dari Allah yg merupakan beban yg sangat berat.
    Kemudian, kita bisa memaklumi kemarahannabi Musa kepada kaumnya yg pada saat beliau kembali malah menyembah patung samiri
    kalo boleh berpendapat, Sinai merupakan tempat yg cocok untuk wisata alam dan religi serta tempat uji ketahanan, terutama di 750 anak tangga sebelum puncak, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya :)

      Walau sudah 3 kali ke sana, tak bosan rasanya untuk selalu ke sana, banyak menemukan pengalamna dan inspirasi baru. itulah salah satu tempat pilihan tuhan, selalu membawa kedamaian.

      Salam kenal Kang :)

      Hapus
  2. seperti ak yg ada disana :) subhanallah. mungkin blog kita punya genre agak berbeda. ak genrenya komedi. tp mungkin bisa singgah :) http://kocakkacau.blogspot.com/2013/08/salahkan-jakunku-yang-kesasar-di-telinga.html?showComment=1376272341053#c5884362123354345969

    BalasHapus
  3. Nice artikel (y)
    Ditunggu kunjungan baliknya di >> http://dun-soft.blogspot.com
    Ditunggu juga komentar komentarnya ;)

    BalasHapus
  4. Wow mantap! Semoga nanti aku bisa kesana juga secepatnya. Thank you for sharing! Safe travels ;)

    - @iamMariza -

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya tunggu kedatanganya Kak Mariza, saya siap jadi guidenya :)

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. sayu hati sy membaca pos ini ust miftah,,terasa ingin ke mesir lgi..tp ntah bila lagi dapat ke sana.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya doakan Ustadazah da rezeki dan kesempatan tuk kunjungi Mesir lagi. Jangan risau bila tas sempat, saya akan senang hati berbagi cerita petualangan saya di Ardul Anbiya. Keep Writing :)

      Hapus
  7. Tulisannya begitu lincah mengalir dlm semua deskripsi bayangku melihat penulis menjelajahi sinai. Sungguh nikmat-sepertinya- bisa "berkhalwat" dgn Tuhan dalam ketakjuban ciptaanNya. Semoga suatu hari saya bisa melintasi jejak yg pernah dilalui Musa, entah kapan waktunya.

    BalasHapus

Sahabat Blogger Miftah Wibowo